Hari ini (10.06.08) Noe alias Sabrang, sang vokalis dan motor grup band Letto dari jogja tepat berusia 29 tahun, usia yang masih muda untuk berkarya dan mengabdikan idealismenya. Selamat ulang tahun buat Sabrang semoga tambah sukses bersama Letto, makin membumi, merakyat dan tidak melupakan apa yang telah menjadikan besar…

Berikut profil Noe Sabrang Mowo Damar Panuluh yang diambil dari sebuah media:


Sabrang Mowo Damar Panuluh atau lebih dikenal dengan nama Noe Letto, adalah penyanyi pentolan grup musik Letto. Pria kelahiran Yogyakarta, 10 Juni 1979 ini merupakan anak pertama budayawan, Emha Ainun Najib dari istri pertamanya, sebelum menikah dengan aktris dan penyanyi, Novia Kolopaking.

Kecintaanya pada musik diawali, saat dirinya diberi pamannya kaset berisi kumpulan lagu-lagu Queen. Saat itu dirinya masih SMP, yang akhirnya mempunyai pikiran untuk membuat musik yang sealiran dengan Queen. Mulailah Noe bersentuhan dengan sejumlah alat musik.

Lulus SMP, Noe kemudian kembali ke Yogyakarta dan meneruskan sekolah di SMU 7 Yogyakarta. Ia bergabung dengan komunitas ayahnya dan dipertemukan dengan dengan Ari, Dedy dan Patub di sekolah.

Pada 1998, Noe memutuskan untuk melanjutkan kuliah di University of Albertha, Kanada dengan mengambil dua jurusan matematika dan fisika. Setelah kembali ke tanah air dan bertemu kembali dengan kawan-kawan karibnya, Noe sering bermain musik di studio Kyai Kanjeng, group musik milik ayahnya.

Noe mulai menulis lirik lagu, yang akhirnya tertuang dalam album perdananya, Letto, Truth, Cry, and Lie. Disusul kemudian album kedua, Don’t Make Me Sad (2007).
source: kapanlagi.com

Oleh: Noe Letto (Kompas, 18.05.08)

Salah satu produk populer di ”dunia gaul” dari 100 tahun kebangkitan bangsa kita adalah idiom ”Indonesia banget!”. Bahasa tubuh dan mimik yang mengungkapkan istilah itu mengungkapkan konotasi negatif.

Mungkin sekali saya salah, tetapi sering kali saya merasakan bahwa ”Indonesia banget” adalah kata ganti untuk semacam perilaku negatif, yang sehari-hari atau bahkan untuk kasus-kasus dalam skala yang lebih besar. Misalnya, buang sampah sembarangan, melanggar peraturan lalu lintas, merokok di no smoking area, tidur saat rapat atau sidang, koruptor tak terhukum, umbar janji pemilihan, bahkan pada kasus tertentu: ngiler bisa dikomentari ”Indonesia banget lu!”.

”Output” cinta

Sampai umur 29 tahun sekarang, tidak saya peroleh ”peluang menjadi pahlawan”, misalnya, dengan berjuang melawan Jepang atau Belanda. Tidak mengalami secara langsung Sumpah Pemuda, Kebangkitan Nasional, juga Proklamasi Kemerdekaan.

Ketika Reformasi terjadi, saya kesepian kuliah di Edmonton Kanada Utara tanpa seorang teman Indonesia pun. Bisa nama para menteri saja kurang dari 10 persen yang saya tahu. Tapi, saya yakin tidak ada satu pun para pendiri Indonesia yang menginginkan kata ”Indonesia” dilibatkan dalam idiom negatif ”Indonesia banget!”. Mereka pasti sedih kalau hidup cukup lama dan tahu hal ini.

Tapi, tolong jangan bilang saya tidak sedih, meskipun saya belum pernah menjadi ”aktivis nasionalisme” secara ”formal”. Juga jangan berani bilang saya tidak cinta Indonesia—meskipun, terus terang, memang saya menemukan masalah serius dalam hal ”mencintai Indonesia”.

Kalau mencintai seorang perempuan, sedikit mudah mencerna apa yang sebenarnya saya alami: suka bentuk tubuhnya, sikapnya, prinsipnya, kecerdasannya, hatinya, atau gabungan semuanya. Setelah mempelajari dan memperoleh kejelasan latar belakang orang yang saya cintai itu, akan saya tindak lanjuti dengan langkah berikutnya: mendapatkan cintanya, me-maintain cintanya, dan memastikan bahwa output dari semuanya adalah keluarga yang sakinah mawaddah warohmah, kalau perlu, keluarga madani.

Itu semua frame yang relatif sederhana. Akan tetapi, cintaku kepada Indonesia itu jenis yang mana? Kalau tahap itu belum jelas, mau menindaklanjuti dengan cara bagaimana? Output bagaimana yang saya harapkan?

Bagaimana agar Indonesia bisa dicintai

Terkadang ada satu hal fundamental yang saya selalu pertanyakan: ”diri”-ku yang primer itu ”diri” yang mana? Diri ”Noe”, diri ”anak band”, diri ”penikmat fisika dan matematika”, diri ”Muslim”, dan banyak dimensi identitas lainnya. Bahkan mana yang lebih utama aku sebagai diri ”anak ibuku” atau diri ”anak ayahku”.

Untung itu bukan pertanyaan check-point seperti dalam ujian nasional. Itulah kekayaan dinamis proses kehidupan setiap orang. Dan kalau kita bicara Indonesia dengan kebangkitannya, langsung saja terasa yang paling nyata adalah bahwa diriku adalah bagian dari Indonesia. Dan cara berpikir yang saya pilih bukan bagaimana cara mencintai Indonesia, tapi bagaimana agar Indonesia bisa dicintai. Minimal oleh diri Indonesia sendiri. Di situlah wilayah kontribusi ”bagian dari Indonesia” kepada ”Indonesia”. Subyek utamanya, tujuannya, output-nya adalah ”Indonesia”, sedangkan si ”bagian dari Indonesia” hanya kontributor.

Seratus tahun yang lalu, 20 Mei 1908, yaitu tanggal berdirinya Budi Oetomo, dikenang sebagai tonggak kebangkitan nasional. Merefleksikannya ke zaman ini, pertanyaan pertama (dan cliché) adalah: setelah seratus tahun, apakah kita sudah benar-benar bangkit?

Saat itu, membaca dari buku sejarah, dua kata kunci yang memicu semangat kebangkitan bisa ditarik langsung dari dua kata kunci: eksploitasi dan diskriminasi. Waktu itu diskriminasi termanifestasi dengan adanya kesenjangan dengan obyek : pribumi-nonpribumi. Eksploitasi terutama terdefinisikan (secara kasuistik) dengan tindakan Pemerintah Hindia-Belanda yang menggunakan uang orang Indonesia untuk merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya. Hal ini direspons oleh Ki Hadjar Dewantoro dengan artikelnya Als ik Nederlander was (seandainya saya orang Belanda), yang membawanya langsung ke penjara. Sebuah simbol perjuangan yang menebalkan polaritas dan membangkitkan semangat bersama.

Siklus alam dan lingkaran setan

Saat ini: untuk mengukur langsung tingkat kesuksesan semangat Kebangkitan Nasional, akan akurat jika mengukur dari dua kata kunci tersebut. Apakah di zaman sekarang masih ada yang namanya eksploitasi dan diskriminasi (negatif)?

Kita semua sadar pentingnya semangat kebangkitan, kita sadar kita ingin keluar dari stigma tersebut. Tapi, terlihat secara nyata dari pengalaman seratus tahun ini bahwa ada sebuah proses (bisa kita sebut lingkaran setan) dan dengan kedua ”setan” ini terpelihara dan justru terkembangbiakkan. Tidak hilang, tapi malah terlestarikan.

Contohnya dalam dunia pendidikan: ketidaksadaran akan pentingnya pendidikan (kesejahteraan guru, dana pendidikan tidak maksimal)—pendidik tidak mampu bekerja maksimal—murid terdidik dengan tidak maksimal—generasi/SDM lemah—ketidaksadaran akan pentingnya pendidikan, dan seterusnya. Diskriminasi terhadap hak pendidikan membawa degradasi generasi.

Kalau salah satu nilai yang dijunjung tinggi demokrasi adalah persamaan hak berkompetisi untuk setiap individu, padahal modal pendidikan (menjadi terdidik) adalah syarat utama untuk mampu berkompetisi tidak dapat terpenuhi (diskriminasi terjadi saat ada korelasi antara ”biaya pendidikan” dan ”kualitas pendidikan”), kita harus menyelesaikan persoalan ini dahulu sebelum berhak bicara banyak soal demokrasi.

Contoh lain dalam lalu lintas informasi: informasi tidak lengkap—salah persepsi—salah reaksi—salah sasaran—salah konklusi—disinformasi/informasi tidak lengkap. Eksploitasi disinformasi akan memperpanjang disinformasi, dan secara langsung memperpanjang kesempatan eksploitasi.

Beberapa generasi terlewati, tetap dalam lingkaran ini dan tetap tertunggangi oleh stigma-stigma ini. Yang kemudian melahirkan banyak masalah turunan yang begitu luas, akut, dan semakin sulit teridentifikasi akar masalahnya (apalagi pemecahannya). Belum ditambahi dengan budaya kita yang lebih suka menggariskan kebenaran dari norma dan bukan nilai.

Nyamuk dan generasi larva yang mandiri

Telur-larva-pupa-nyamuk-telur-larva. itulah lingkaran hidup nyamuk. Untuk memberantas nyamuk dibutuhkan cara yang efektif untuk memotong lingkaran hidup nyamuk ini sehingga lingkaran itu tidak bisa berputar secara komplet. Begitulah yang saya pelajari di SD.

Sepertinya tidak terlalu far fetched kalau kita mengadopsi cara berpikir yang sama. Dibutuhkan sebuah metode untuk memecahkan lingkaran setan ini. Masalah utamanya ternyata adalah ketidaksadaran posisi kita sebenarnya ada di mana. Mungkin sebenarnya kita sudah masuk di lingkaran tersebut. Mungkin lebih santun disebut: generasi saya, generasi muda. Sebentuk generasi larva yang terdesain sedemikian rupa untuk menjadi nyamuk di masa depannya.

Ketika beribu demo sudah dilakukan, ketika tenggorokan sudah kering berteriak tuntutan, ketika kita bingung sendiri kita baru saja menuntut apa, ketika sudah kehabisan orang yang dituntut untuk melakukan perubahan, ketika kita capai sendiri dan dengan sukarela memilih jadi salah satu dari yang dulu pernah kita benci. Sepertinya tidak ada pilihan lain: setelah larva adalah pupa dan jika berumur sedikit lebih panjang, kita akan menjadi nyamuk. Selesai.

Selesai?

Mungkin tidak kalau saja kita memulai sedikit berani. Kalau saja semua larva memutuskan untuk tidak mau menjadi bagian dari lingkaran hidup nyamuk. Kalau saja generasi larva ini beramai-ramai mendeklarasikan bahwa dirinya bukanlah larva dan tentu saja tidak menganut sifat-sifat ”kenyamukan”. Demo kali ini bukanlah berpawai ribuan orang dengan tuntutan-tuntutan yang diteriakkan. Demo yang ini adalah menyatakan jati diri dan sikap bahwa kita bukanlah larva. Kita adalah generasi baru dengan sikap dan pemikiran yang baru. Generasi ini menolak menjadi nyamuk, generasi ini generasi yang mandiri dan memilih menjadi garuda. Seharusnya dengan sikap dan pemikiran antitesis dari permasalahan selama ini.

Adalah dibutuhkan sebuah generasi mandiri (bukan hanya kontinuasi dari generasi sebelumnya) yang mau dan mampu mengubah dirinya sendiri, dan lepas dari lingkaran-lingkaran setan. Tak perlu menuntut nyamuk untuk berubah menjadi sapi. Tapi, kita pastikan kita tidak akan menjadi nyamuk, tapi menjadi generasi garuda yang sakti. Siapa tahu tahun 2008 sekarang ini adalah awal dari 100 tahun kedua dengan paradigma kebangkitan yang sudah berbeda dan tak kalah kreatif dari perintis 100 tahun pertama.

”Tidak mudah” itu pasti. ”Tidak mungkin” itu salah persepsi.

Deklarasi, petisi, hanya salah satu cara untuk memberi ”bendera” pada kebersamaan. Deklarasi menjadi mentah jika ia hanya menjadi simbol. Deklarasi akan menjadi sangat kuat bila ia menjadi ruh dari sebuah tekad yang ditanggungjawabi dalam bentuk sikap/tindakan secara bersama-sama. Tindakan adalah refleksi dari sikap. Sebelum ada tindakan semestinya datang dari pemikiran yang cermat, bersih dan obyektif. Sebuah pemikiran semestinya dilandasi sebuah nilai (tidak selalu norma) yang kita sepakati bersama sebagai sebuah kebenaran. Tanpa ada pernyataan nilai yang disepakati dan diusung bersama, ruh tindakan tidak akan hidup cukup panjang untuk membuat sebuah perubahan.

Noe Vokalis Kelompok Band Letto

Letto adalah band asal Yogyakarta yang sukses dengan album perdananya bertitel “Truth, Cry, and Lie” dan sekarang tengah sibuk menggelar tur bersama Samsons, Ungu dan Naff di gelaran A Mild Live Rising Star. Band ini mempunyai vokalis bersuara lembut bernama Sabrang Mowo Damar Panuluh yang akrab disapa Noe. Mahasiswa lulusan University of Alberta California ini memberikan kiat menjaga suara agar tetap tampil prima selama tur. Berikut sedikit kiat dari pria yang hobi mengenakan kupluk ini.

1. Bagi band yang sedang mengikuti panjang, contohnya A Mild Live Rising Star tidur yang cukup adalah hal wajib dituruti oleh seorang vokalis. Selama di tur biasanya gue menghabiskan 4 sampai 6 jam buat tidur.

2. Yang tak kalah penting adalah menjaga jumlah cairan di dalam tubuh. Bagi gue cairan tubuh itu penting agar vokal tetap terjaga. Biasakan perbanyak minum air putih.

3. Banyak vokalis yang bermasalah dengan makanan yang banyak mengandung minyak, bagi gue itu gak berpengaruh. Intinya adalah banyak-banyak makan selama tur, dan bila jenis makanan tertentu mempengaruhi kualitas vokal, sebaiknya langsung dihentikan.

4. Pergunakanlah waktu seefisien mungkin. Jangan memanfaatkan waktu senggang dengan dengan hal yang gak penting yang dapat menyebabkan kualitas vokal terganggu.

source: amild.com

SANG vokalis band Letto yang tengah berkibar Noe (26) yang memiliki nama panjang Sabrang Mowo Damar Panuluh tak hanya suka menyanyi, tetapi juga melahap dan mengoleksi buku. Bahkan oleh keluarganya, Noe disebut sebagai ‘setan’ baca.

Penampilannya yang sederhana membuat cowok ini terkesan pendiam saat ditemui di launching novel Pedang Skinheald II karya penulis cilik Ataka Awwalur Rizki di Gramedia Ambarrukmo Plaza, akhir pekan lalu. Sejak kecil, Noe putera Emha Ainun Najib atau Cak Nun ini gemar membaca aneka jenis buku, mulai dari buku cerita hingga buku serius yang diwariskan dari ayah atau keluarga. Noe pun rajin membeli buku, hingga ia mempunyai koleksi ribuan buku di rumahnya di Lampung.

Noe memang lahir di Yogyakarta pada 10 Juni 1979, namun ia hanya tinggal lima tahun. Ibunya bercerai dengan Cak Nun dan memutuskan pindah ke Lampung. Noe pun turut bersama sang bunda. Namun tak berarti ia kehilangan sosok ayah, karena Cak Nun sering datang menjenguknya ke Lampung.

Setelah lulus SMP, Noe kembali ke Yogya dan meneruskan sekolah hingga bangku kuliah. Ia bergabung dengan ayahnya, dan bergaul bersama komunitas Kyai Kanjeng. Kepindahannya memaksa ribuan koleksi bukunya ini turun ke keponakan. “Ya itu, dari dulu mereka sering meminjam. Begitu saya pergi, mereka rebutan meminjam buku tapi tidak dibalikin lagi. Tapi tidak apa-apa yang penting tidak hilang,” katanya.

Pengagum Freddie Mercuri yang rumahnya di Yogya sempat dijadikan dapur umum setelah bencana gempa ini kini mengaku masih tetap menjadi setan baca. Namun karena kesibukannya di dunia tarik suara, penyaluran hobinya ini agak tersendat. Tapi setiap kali, ia selalu menyempatkan membaca buku.

Kini, ia lebih memilih buku populer dan ilmu pengetahuan aktual, dan buku cerita atau fiksi hanya sebagai hiburan sesekali. Kesukaannya pada buku science memang tak mengherankan karena dia lulusan University of Albertha, Kanada dengan dua gelar sekaligus Bachelor of Mathematic dan Bachelor of Physics. Saking cintanya pada buku populer, yang ia sebut sebagai buku aktual, ia pun jadi takut ke toko buku.

“Yang membuat saya agak terganggu adalah jika mampir ke toko buku, ‘setan’ baca dalam diri saya seperti bangkit. Rasanya jadi ingin membeli seluruh buku di toko buku,” ungkapnya sembari tersenyum ringan.

Ketika ditanya kenapa tidak jadi ilmuwan, Noe menjawab bahwa hidupnya dijalani dengan sederhana saja, mengikuti jalan Tuhan. Noe kecil pun bercita-cita sederhana, menjadi tukang pos.

“Soalnya, setiap kali tukang pos datang ke rumah bawa wesel. Saya jadi berpikir tukang pos itu kaya,” kisahnya. Namun setelah besar, Noe tak punya cita-cita khusus. “Cari duit untuk modal kawin,” ungkapnya sembari tertawa lebar.

Noe dan Letto kini masih sibuk roadshow album perdana mereka Truth, Cry and Lie. Kini, Noe mengaku Letto tengah menyiapkan album kedua yang kini baru 50 persen. “Pengennya akhir tahun ini atau awal tahun depan. Mohon doanya saja,” katanya sambil tersenyum malu saat dikerubuti penggemar yang kebanyakan remaja putri. (M-4)-m.

sumber: http://www.kr.co.id

Suara merdu vokalis Letto ini menghiasi sejumlah sinetron top saat ini. Dia adalah Noe, putra Emha Ainun Najib. Dengan kesederhanaannya Noe tak bermaksud ikutan populer seperti ayahnya. Noe kecil pun bercita-cita sederhana, menjadi tukang pos.

Lagu Letto sedang laku keras. Beberapa sinetron yang sedang digandrungi penonton memilih tembang kelompok yang beranggotakan Ari (bas), Patub (gitar), Dedy (drum) dan Noe (vokal) itu sebagai theme song. Sinetron Intan memilih Ruang Rindu, lalu Wulan yang menggaet Sandaran Hati, dan I Love U Boss memakai Sampai Nanti Sampai Mati. Sinetron dan lagu-lagu bersinergi dengan bagus, dan kini populer di mana-mana.

Yah, di antara personel Letto, memang Noe paling menyita perhatian. Salah satunya karena pria bernama asli Sabrang Mowo Damar Panuluh (26) ini anak dari Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Sebelum ini banyak orang yang enggak tahu siapa Noe. “Oh, ini anaknya Cak Nun,” begitu kira-kira komentar banyak orang kala melihat Noe.

Tukang Pos Kaya
Noe lahir 10 Juni 1979 di Yogyakarta. Namun, di Kota Gudeg itu Noe hanya tinggal lima tahun. Ibunya bercerai dengan Cak Nun dan memutuskan pindah ke Lampung, dan Noe ikut ibunya. Tak hanya harus berpisah dengan ayahnya, Noe juga harus berjarak dengan nenek tercinta.

Kendati demikian, Noe menemukan suasana baru di Lampung. “Saya jadi bisa merasakan suasana pedesaan. Kalau di Yogya, mencari pengalaman menangkap belut saja susah,” ujar Noe saat ditemui di sela-sela syuting klip video kelima Letto, Truth, Cry and Lie di Karawaci, Tangerang, beberapa waktu lalu.

Noe mengaku menjalani masa kecil yang sama dengan anak-anak pada umumnya. “Ya sekolah, ya bandel,” serunya. Saat kecil pula, ia pernah bercita-cita menjadi masinis dan tukang pos. “Soalnya, setiap kali tukang pos datang ke rumah bawa wesel. Saya jadi berpikir tukang pos itu kaya. Yah, namanya juga logika anak kecil,” kisahnya seraya tertawa. Namun setelah besar, Noe tak punya cita-cita khusus. “Yang penting berguna, enggak sia-sia diberi kesempatan hidup.”

Meski tinggal berjauhan dengan ayahnya, Noe tetap merasa dekat. Karena Cak Nun sering datang menjenguknya ke Lampung. Saking akrabnya, Noe menganggap Cak Nun seperti teman sendiri. Setelah lulus SMP, Noe kembali ke Yogya dan meneruskan sekolah di sana. Ia bergabung dengan ayahnya, dan bergaul bersama komunitasnya.

Saat duduk di bangku SMA barulah Noe bertemu dengan Ari, Dedy dan Patub. Karena mereka satu sekolah. Namun, kala itu mereka belum membentuk band. Noe sendiri melanjutkan kuliah di University of Albertha, Kanada di tahun 1998. Ia mengambil dua jurusan sekaligus, yaitu matematika dan fisika. Lima tahun kemudian, ia pulang ke Yogya dengan membawa gelar Bachelor of Mathematic dan Bachelor of Physics.

source: nova

Hanya ada satu kata untuk Noe, ABSTRAK. Tapi kemampuan otaknya tidak diragukan lagi. Seandainya dunia ini hanya terbagi menjadi dua bagian; dunia jenius dan dunia biasa, bisa dipastikan di dunia jeniuslah dia bermukim. Bravo Noe!!

Punya nama lengkap : Sabrang Mowo Damar Panuluh.
Lahir di: Yogyakarta 10 Juni 1979.
Instrumen and Rigs : Larynx, Vocal Chord, Chest, Whole body, mind, and emotion.
Pendidikan : SD I Yosomulyo, SMP Xaverius Metro, SMA 7 Yogyakarta, University of Alberta CA.
Riwayat bermusik : Kamar mandi, Letto.

Katanya tentang aktivitas sosial, “Semua aktivitas yang berhubungan dengan orang lain (semoga bermanfaat), aku anggap aktivitas sosial.” (lettolink.com)

Selamat ulang tahun buat Mas Noe yang ke 28, semoga tambah sukses bersama LETTO dan keluarga tentunya….
Selamat juga atas diterimanya awards di Anugerah Planet Muzik 2007 di Singapore kemarin… (TAM)

Di luar kesibukannya bermusik, vokalis grup musik Letto, Noe, mengaku sangat suka berada di depan komputer demi panggilan hobinya. Putra seniman Emha Ainun Najib ini pernah sampai seminggu berselancar di dunia maya atau mengutak-atik berbagai macam software komputer kegemarannya.

Lulusan Mathematics and Physics University of Alberta, AS, ini memang menyenanga sesuatu yang terkait dengan angka. Meski tidak secara langsung bergelut dengan matematika, logika berpikir yang dibentuk dengan mempelajari matematika dirasakannya sangat berguna dalam mengarungi hidup.

Namanya juga hobi, kalau lagi senang, ya, bisa berjam-jam di depan komputer,” ungkap pria yang memiliki nama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh ini di sela pentas band-nya di Kota Solo, pekan lalu.

Sukses dengan album perdana, Noe bersama awak Letto lainnya, yakni Arian, Agus Patub, dan Dedi, sedang giat mengumpulkan materi album kedua, selain juga menunggu tayangnya video klip keempat dari album pertama mereka, yakni lagu Sebenarnya Cinta. Kini, sudah 13 lagu mereka kumpulkan untuk album kedua. Jenis musiknya masih akan pop meski dengan pengaruh berbagai macam aliran. “Ada rock, funk, sampai dangdut,” kata Noe yang juga berbisnis studio rekaman bersama teman-teman bandnya.

taken from: kompas


PUNYA ayah Emha Ainun Nadjib rupanya menakutkan. Itulah pengakuan Sabrang Mowo Damar Panulung, 26 tahun. Apa yang dilakukannya dengan bekerja keras selalu saja dikaitkan dengan pimpinan grup musik Kyai Kanjeng itu. Termasuk ketika Noe, begitu ia biasa disapa, membentuk band bernama Letto (di grup ini ia menjadi vokalis).

Saya bukannya nggak bangga sama Ayah. Cuma, saya nggak mau mendompleng dan memanfaatkan namanya. Pingin dikenal, ya, karena kemampuan saya,” ungkap Noe kepada Ajeng Ritzki Pitakasari dari Gatra.

Ihwal terjunnya Noe di bidang tarik suara pun dijalaninya sendiri. “Saya belajar sendiri semuanya. Nggak ada duit untuk bayar orang yang bisa ngajari nyanyi,” kata sarjana dua disiplin ilmu, matematika dan fisika, dari Universitas Alberta di Kanada ini, mantap. Di album perdana Letto, “Truth, Cry, and Lie”, Noe membuktikan talentanya. Ia menulis semua lagu dan liriknya. Lima dari 10 lagu itu ditulis dalam bahasa Inggris.

Namun ia tak menolak bila harus manggung bareng sang ayah. “Tapi bukan sebagai anak dan ayah. Kalau sampai terjadi, saya pingin dalam konteks antara Kyai Kanjeng dan Letto,” ucap anak sulung dari pernikahan pertama Emha ini.

(Sumber: Apa Siapa Majalah Gatra)
VOKALIS grup band Letto, Noe, membantah tudingan bahwa ia mendompleng nama besar sang ayah, Emha Ainun Najib.
“Saya tidak bisa memilih menjadi anak siapa. Kalau kemudian saya berkarya dalam hal apa dihubungkan dengan ayah saya, apakah itu salah saya dan teman-teman saya”, kata pemilik nama Sabrang Mowo Damar Panuluh ini.

Noe sendiri tidak mempermasalahkan penilaian orang bahwa kesuksesan yang diraih ia dan Letto tak lepas dari Emha Ainun Najib.
“Silahkan orang mau berpikiran apa. Yang penting kita tidak pernah menjadikan nama itu menjadi aset sedikit pun.” ucap Noe.

(Sumber: Bibir Plus SCTV)

Noe, Menganggap Cak Nun Sebagai Teman Ketimbang Ortu.

Kata demi kata, kalimat demi kalimat menyembur dari mulut basah pemuda bercelana Jeans yang sobek-sobek dari pangkal paha hingga menyentuh mata kaki ini. Sesekali bahasanya beraroma sastra. Lain kali terdengar begitu teoritis dan matematis. Namun tak jarang ia mengumbar plesetan dan canda ria dengan logat jawanya yang begitu kental. Jari-jari tangan kanannya menjepit sebatang rokokputih. Sosok ini tak lain adalah Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe, vokalis grup band Letto yang tengah merangkak naik.

Ternyata, vokalis grup band ini adalah putra budayawan Emha Ainun Najib hasil perkawinannya dengan Neneng. Rupanya gaya pendidikan Cak Nun (panggilan Emha) begitu membekas terhadap anaknya. Saat berbincang, Noe menyebut ayahnya dengan inisial CN (kependekan dari Cak Nun).

“Sejak kecil hingga sebesar ini, belum pernah dia memerintah harus begini atau begitu. Dia selalu mengajarkan dasar pemikiran yang jelas. Segala sesuatu harus mulai dengan. Mau main hujan aja harus tau alasannya apa,” papar lelaki berzodiak Gemini itu.

Menurutnya CN membekali banyak hal, termasuk mendekatkan dirinya pada Tuhan. Tapi jangan bayangkan budayawan mbeling itu menyuruh anaknya Sholat, ngaji atau perintah-perintah akhirat yang sejenisnya.

“Untuk urusan spiritual, CN mengajari saya bagaimana menjadikan Tuhan sebagai teman. Misalnya saat melihat rumput yang tumbuh. CN mengatakan itu bukan saja proses alam, melainkan proses Tuhan juga ada di situ” tukas penyuka makanan Sushi ini.
“CN mengajarkan bagaimana hidup dan memahami masalah. Ibarat komputer, CN bukan memberi data, tapi membentuk processor. Sehingga apapun yang masuk menjadi jelas karena processor-nya jelas. Makanya saya lebih menganggap CN sebagai teman dari pada sebagai orang tua,” lanjutnya.

Sejak kecil Noe, tinggal di Metro daerah Lampung. Saat menginjak umur 6 tahun, orangtuanya memutuskan untuk bercerai. Noe menjadi korban broken home? Ternyata tidak. Memang alumnus SD 1 Yosomulyo, Lampung itu sempat bertanya-tanya tentang hubungan kedua orang tuanya. Sehingga wajar ketika Noe kecil makin sering diskusi dengan CN. Untungnya CN bisa menggiring anaknya untuk percayaakan keputusan cerai terhadap istri pertamanya.

“Saya tidak menerima itu sebagai suatu perpisahan. Karena CN sering datang ke lampung. Hubungan mereka tetap seperti saudara. sampai sekarangpun tetap baik,” kata alumnus SMP Xaverius Metro Lampung ini. Noe mengaku tidak merasa punya pengalaman traumatis kehancuran bahtera rumah tangga kedua orangtuanya. Dia melihat itu dengan jernih dan menganggapnya sebagai keputusan logis, bukan emosional semata.

“Yang terbaik emang seperti itu. kalaupun mereka pisah saya nggak merasa kehilangan apapun,” terang anak pertama dari empat bersaudara ini.

Setelah lulus SMP, Noe memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Jogja. Tahun 1998, kemudian Noe melanjutkan jenjang pendidikannya ke University of Alberta, Kanada dengan mengambil konsentrasi bidang Matematika. Namun rupanya, kakak dari Haya, Obal dan Rampak ini belum puas. Selain itu, karena otaknya yang eamng terbilang encer, Noe menambah konsentrasi di bidang lain yakni Kimia. Selain itu di negeri bule itu, Noe belajar tentang musik teknologi.

Tahun 2004, vokalis yang bercita-cita ingin memiliki pusat riset ilmu pengetahuan ini kembali ke tanah tampah darahnya.

Ide-ide tentang ilmu yang dulu saya pelajari di Kanada tak kumpulin di HP. Entah kapan punya kesempatan untuk merealisasikan ide itu.” tandas cucu dari Pak kami dan Bu Kami ini.

Noe mengaku sebenernya ia bukan orang yang punya talent di dunia musik dan hanya sebatas suka mendengarkan musik. Sebelumya ia lebih enjoy menjadi sosok di belakang layar dari pada tampil di atas hiruk-pikuk panggung. Semuanya bermula ketika pamannya memberikan kaset bekas kumpulan lagu-lagu Queen. Saat itu dia masih duduk di bangku SMP. Setelah mendengarkan berulang kali, akhirnya dia punya pikiran bagaimana membuat musik yang bisa menggerakkan rasa dan menggerakkan perasaan orang lain. Mulailah Noe bersentuhan dengan keyboard, alat yang pertama ia sentuh.

“Sebenernya aku gak iso nyanyi. Karena kebetulan saat bikin lagu, tidah ada yang nyanyi. jadi sebenernya terpaksa. lantas kemudian ketika memasuki wilayah industri, harus nyanyi,” canda pria kelahiran 10 Juni 1979 ini. Sebagai tempat pelampiasan bermusik, Noe memanfaatkan studio Kyai Kanjeng, grup musik milik ayahnya sebagi tempat praktiknya. Kreasi hobinya tak sia-sia. Lagu-lagu yang sekarang ngetop dibawakan Letto merupakan hasil kreativitasnya.

Dari studio Kanjeng, saya bisa ngerti bagaimana mixing, mastering dan memproduksi musik,” ungkap anak tiri bintang sinetron Novia Kolopaking itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, penyuka aktor Morgan Freeman ini meyadari akan segala kekurangan skill-nya di ranah musik. Tuntutan belajarpun mulai menggelisahkan dirinya. Penggalian bakat mulai dilakukan dengan lebig serius. Beruntung Noe tipe orang yang tak malu-malu bertanya dan belajar.

“Saya belajar kepada ibu Bertha. Menimba ilmu dengan siapa saja. Malah kalo ketemu Rendra, saya banyak belajar dari dia bagaimana mengangkat performance di atas panggung,” akunya.

Saat ditanya tentang keterlibatan dengan narkoba, Noe menjawab seperti diplomat ulung, “Semua orang tau bahwa api itu panas. Apa perlu membuktikan sendiri kalo api itu panas. Begitu juga narkoba. saya sudah melihat sendiri bagaimana efek yang ditimbulkan narkoba,” katanya.

Noe pun kini merasa senang dengan respons masyarakat terhadap karya dirinya dan teman-temannya di grup band Letto. Tapi ia tak mau semua itu nantinya malah akan mengubah siapa mereka sebenarnya.

Nama Lengkap: Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe)
Tanggal Lahir: Jogjakarta, 10 Juni 1979
Posisi: Vokalis dan Keyboard
Musik Fave: Queen, Yani, Kitaro
Sekolah: SD 1 Yosomulyo Lampung, SMP Xaverius Metro Lampung, SMA 7 Jogja, University of Alberta Kanada
Friendster: http://www.friendster.com/user.php?uid=1628387
Mobile: +6281227xxxxx

(Sumber: Genie, photo: Tam)