Band Kampung di Panggung Kota

September 5, 2007

LETTO! Yah, band yang sekarang sedang banyak jadi omongan ini, sebenarnya tidak punya arti yang penting. Letto itu tidak punya makna khusus.
Ya memang tidak ada artinya,” kata Noe, vokalis juga orang yang menemukan nama itu dengan cara yang “tidak wajar” itu. Tidak wajar? Nama Letto didapatnya tanpa proses yang berbelit-belit. “Impulsif saja. Nama itu saya dapatkan ketika saya bangun tidur. Saya usulkan nama itu dan teman-teman setuju,” beber Noe sambil tersenyum.
Kami pilih Letto karena nama itu sama sekali nggak ada arti dan filosofiinya. Sengaja begitu biar nggak diartikan neko-neko saja. Lagipula buat kami nama itu tak punya fungsi selain sekadar identitas,” ujar Noe.

Sebelum menjadi sepeti sekarang, dipuja-puji, dikerubutin penggemar, Letto hanya band yang terbentuk lantaran personelnya rajin kongko di sebuah studio musik. Para personel Letto dulunya adalah teman satu sekolah, bahkan ada yang sekelas di SMU 7 Yogyakarta. Waktu itu sudah bermain musik tapi jenis etnis dan tradisional. Seusai merampungkan kuliah, kami berkumpul lagi dan sering nongkrong di Geese Studio di rumah Noe. Kami pun mulai menyentuh musik pop dan belajar membuat lagu. Maka terbentuklah Letto.

Kami ini teman satu SMA dan suka main musik. Suatu kali, kami dipercaya mengelola sebuah studio rekaman. Di kala studio sedang sepi, kami suka main musik dan bikin-bikin lagu. Dari studio itu kami belajar tentang audio dan teknik-teknik studio,” seru Arian. Sampai di sini belum ada niat serius bermusik. Niat serius baru muncul setelah didesak teman-teman mereka. “Teman-teman menyarankan kenapa nggak diseriusin saja lagu-lagu yang sudah jadi,” seru Arian lagi.

Personil awalnya tergolong awet. Ada nama Noe [vokal], bersama Patub (gitar), Arian (bas) dan Dedy (drum) yang sampai sekarang masih mengisi line-up band asal Jogjakarta ini. Sampai akhirnya mereka “iseng-iseng berhadiah” membuat lagu yang entah bagaimana ceritanya sampai ke tangan Noey Java Jive. Noey adalah produser yang melejitkan Peterpan dan beberapa band lainnya. Lantaran tertarik Noey menawarkan mereka ikut album kompilasi Pilih 2004 keluaran perusahaan rekaman Musica Studio’s. Lagu mereka yang masuk di album itu bertajuk I’ll Find Away.

Sampai di tahap itu, nama LETTO belum dikenal juga, termasuk di kampungnya sendiri, Jogjakarta. Apalagi ketika itu nama Peterpan sedang berkibar kencang. Alhasil, Letto malah jadi pertaruhan kira-kira bakal rekaman atau tidak. Banyak yang bilang tidak, awalnya.

Meski cukup sukses bermusik, tahukah kamu kalau awalnya orang tua personil Letto sempat ragu-ragu dengan pilihan hidup anak-anaknya? Yah, hari gini siapa sih yang mau melepaskan anaknya untuk hidup dari ngeband doang? “Ya, pada awalnya orang tua ragu pada pilihan kami menjadi pemusik. Biasa, alasannya karena tidak bisa dijadikan tumpuan hidup,” kata Noe. Seperti milsanya Noe sendiri. Meski keluarganya lekat dengan kebudayaan, tapi menjadi musisi bukanlah pilihan yang kuat. Apalagi Noe sendiri sempat mangambil kulaih matematika di Kanada, jadi kesempatan jadi musisi adalah pilihan “yang tidak menguntungkan” menurut keluarganya.

Kini, meski popularitas sudah digenggaman, toh keluarganya tak serta merta menyilakan mereka full time di musik. “Mereka memberikan dukungan meski tidak sepenuhnya. Lambat laun dukungan materi dikurangi mungkin agar kami lebih mandiri,” kata Patub lagi.

Tapi siapa sangka, tahun 2006, tiba-tiba kita dikagetkan dengan album ‘TRUTH, CRY AND LIE”. Awalnya masih nggak ngeh kalau yang rilis album ini adalah Letto yang pernah masuk kompilasi tahun 2004 silam. Apalagi liriknya “sok-sokan’ pakai bahasa Inggris pula. Soal album awal dan pilihan berbahasa Inggris, Noe punya alasan. “Pemilihan bahasa kami sama seperti saat kami memilih merek instrumen yang dipakai. Misalnya untuk gitar, ada Inabez, Jackson, Fender, dan sebagainya. Itu hanya masalah pilihan rasa yang disesuaikan dengan musik yang digarap. Tidak ada target karena dalam berkreasi kami berpedoman pada proses kreatif dan mengalir jujur sesuai kapasitas. Namun jika dari sisi industri, dengan menggunakan bahasa Inggris, tentu pasarnya lebih luas. Ini memberikan motivasi lain bagi kami,” jelasnya.

Bicara soal album pertamanya, memang unik. Album ini benar-benar mementahkan sinisme orang tentang band yang dianggap tidak bakal laku ini. LETTO akhirnya merilis album utuh yang herannya, sebenarnya lebih bagus dibanding band-band yang sekarang sedang digandrungi. Sayangnya juga, LETTO sendiri ternyata tak “jual diri” sebelumnya. Nggak kaget, kalau musisi-musisi Jogja sendiri “kebingungan” ketika ada band dari daerahnya yang [lagi-lagi] merilis album nasional.

Album perdananya seperti ‘sok-sokan’ lantaran menggunakan judul berbahasa Inggris Truth, Cry and Lie. Sesuatu yang sebenarnya makin biasa di dunia musik Indonesia. Tak cuma itu, separuh lagu dari 10 lagu yang ada, berbahasa Inggris. Hasilnya?

Sebenarnya LETTO termasuk mengejutkan secara materi. Single pertamanya Sampai Nanti, Sampai Mati ternyata bisa menggoda penikmat musik, meski masih ditengah dominasi pop manis lainnya. Lagu ini simpel, judulnya sedikit nakal. Tempo lagunya medium dengan karakter pop yang jelas. Hanya tampaknya pengaruh brit-pop dominan. Lagu ini mengingatkan penulis pada lagu-lagu milik grup Starsailor. Sebenarnya, lagu ini tak lazim. Ada nada-nada pentatonis yang cukup unik. Sebenanrya kalau dikulik lagi, akan lebih menarik. Tapi tampaknya LETTO tak mau terjebak pada pop-etnisitas.

Letto tampaknya cukup jeli mengemas konsep musiknya. Suara Noe sengau dengan karakter mellow yang cukup kuat. Secara “sembarangan” penulis mendengar karakter Keane Band, Tom Chaplin. Berlebihan? Mungkin saja, tapi karakter itulah yang menjadi kekuatan lagu-lagu LETTO. Coba simak track pembuka Truth, Cry, and Lie. Liriknya sebenarnya psychedelic. Tapi kita akan terkecoh dengan tarikan vokal Noe yang melankolik itu.

Kelebihan lainnya, Noe punya lafal Inggris yang cukup bagus. Meski sering mengaku “anak desa” ternyata Noe cukup lama ngendon di Kanada. Anak Emha Ainun Nadjib ini punya kelebihan vokal yang apik.

Sayangnya, semua kelebihan itu tidak langsung ditingkahi dengan sound yang apik. Kekurangan album ini adalah sound yang terlalu “sederhana”. Seandainya bisa lebih megah, kamu bisa tertipu mengira LETTO band britpop dari negeri seberang. Kelemahan lain yang perlu segera dibenahi, LETTO harus berani bermain-main dengan lirik yang sedikit nakal. 10 lagu nyaris seragam. Entah, kalau mereka memang memposisikan diri sebagai band “pengharubiru” saja. Kalau itu pilihan mereka, sayang sekali. Band ini punya potensi lebih.

Soal irik yang di album pertama dan kedua masih menyelipkan bahasa Inggris, agak unik juga alasan mereka. Pasalnya, selain soal proses kreatif, mereka juga lempeng saja mengatakan soal bahasa Inggris itu lebih pada persoalan rasa enak atay tak enak saja. “Kita cari yang nyaman saja,” kata Patub ikut nyamber. Dan pilihan itu tidak salah. Lambat laun, pélan-pelan lagu Letto mulai disimak dan diperhatikan. Nyaris empat bulan pertama sejak rilis, nama Letto baru disebut-sebut tapi belum bener-benar menjadi omongan yang menarik. Sampai kemudian beberapa lagunya menjadi soundtrack sinetron. Barulah mereka merambat naik ke atas. Puas? “Manusia tentu tidak pernah puas. Tapi yang pasti, kami mensyukuri hasil kerja kami selama ini karena bisa memberikan sesuatu yang ternyata disukai masyarakat,” kata Patub lagi.

Noe yang anak budayawan Emha Ainun Najib menambahkan, “Bagi entertainer, kepuasan akan terpenuhi bila karyanya diapreasi positif oleh khalayak dan yang paling sulit adalah mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan tersebut. Untuk mempertahankan atau lebih sukses, kami tentu sudah memikirkan strategi berkarya untuk masa depan.”

Pernah berpikir soal sukses atau lagu-lagunya disukai? Jawabannya bisa “basa-basi” juga, tapi Letto melihatnya sebagai satu proses. “Kami tidak tahu mengapa lagu-lagu kami banyak diminati. Mungkin karena maknanya mendalam sehingga bisa mengilhami beberapa pihak untuk menggarap tema cerita. Sekadar informasi, lagu “Ruang Rindu” juga dijadikan ide cerita sebuah novel yang digarap seorang penulis dari Bandung,” jelas Noe.

Yang unik, menurut Noe, di Semarang juga ada guru Taman Kanak-kanak yang meminta izin untuk mengangkat album pertama mereka sebagai ide cerita sebuah buku yang akan dia garap. “Ah kita sebenarnya hanya menciptakan lagu yang menurut kami enak. Jika ternyata masyarakat suka, ini berarti selera kami dan masyarakat sama. Buktinya apa yang menurut kami enak, enak pula menurut masyarakat,” imbuh Noe.

Lirik yang lembut, suara yang mendayu dan musikalitas yang tidak terlalu kencang, membuat Letto kerap dituding sebagai band yang termasuk aliran menye-menye. Ada yang menudingnya cengeng, meski banyak yang menyebutnya band romantis. Dimanakah sebenarnya posisi Letto?

Ketika merilis album kedua ‘Don’t Make Me Sad’, Letto memberi alasan soal lagunya yang disebut dengan banyak pilihan tadi. “Kami tidak pernah tahu arti puitis dan romantis kok,” jawab Noe, vokalis LETTO kepada THE CHORDs ketika ditanya soal romantisme dan puitisme dalam lagu-lagunya. Letto tidak sedang guyon dengan pernyataannya ini. “Kita memang tidak tahu, karena kita buat lagu dengan apa yang kita rasakan saja,” jawab Noe.

Yup. LETTO memang lebih cocok disebut band kontemplatif dibanding band romantis. Meski musiknya mendayu, mengharubiru, tapi liriknya kalau diperhatikan lebih “berbicara” daripada sekedar lagu-lagu biasa. Berlebihan? Harusnya tidak. DI album kedua ini, LETTO terdengar lebih “emosional” secara lirik, karakter vokal dan teknik menyanyi Noe yang agak “menggelayut” itu.

Kita tidak pernah sengaja mencari inspirasi dengan kontemplasi, tapi berusaha kontemplatif dengan apa-apa yang kita alami saja,” jelas Noe, anak budayawan Emha Ainun Nadjib ini kalem. Noe memberi contoh, kehilangan handphone. “Dari kehilangan sesuatu yang kita sayangi, itu bisa mejadi hal kontemplatif dan brekembang jadi satu karakter lagu yang punya emosi,” jawabnya.

Dan pilihan single ‘Sebelum Cahaya’ makin mengukuhkan “kecurigaan” kontemplatif itu. Video klipnya bisa menerjemahkan makna lirik yang sarat simbol-simbol cinta yang perlu refleksi. Pilihan cerdas karena emosi gerak dan bahasa tubuh yang ‘berbicara’ saat klipnya memilih model seorang perempuan tuna wicara. “Kita memberi sentuhan soul yang diterjemahkan lewat gerak bibir dan bahasa tubuh modelnya. Dan itu lebih mengena rasanya,” jelas Noe lagi.

Album keduanya, lebih adem dan mateng liriknya. Tapi menjadi sederhana saja, ketika kita menyimak satu persatu lirik yang ada di album ini. Romantis? Penulis lebih suka menyebut asik di kuping. Kelembutan vokal dan lirihnya lirik, menjadi kekuatan yang bisa mengharubiru pendengarnya.

Letto sebenarnya tidak sedang mengukuhkan dan menciptakan cap apa-apa kepada band ini. Album pertamanya dulu, orang mulai aware ketika masuk bulan keempat dan seterusnya. Sebelumnya, lirik LETTO dianggap syahdu tapi perlu mikir.

Coba saja simak single pertamanya ‘Sebelum Cahaya‘. Adakah yang tidak setuju kalau disebut lagu ini seperti tuturan lafal doa dan keinginan manusia bertemu dengan cinta? Yang kuat dari lagu ini adalah emosinya meski tak ada lompatan yang luarbiasa dari skill dan pencapaian musikalitas yang masih merangkak. Track ini memang masih mengandalkan tempo melow, walaupun tak bisa disebut melankolik. Lebih pas disebut lirih. Masih menyambung dengan single-single hits di album pertama. LETTO masih “hati-hati” melompat dari karakter awal.

Tapi bandingkan dengan single ‘Permintaan Hati‘ yang disebut-sebut bakal jadi hits kedua band ini. Agak terkejut juga, ketika LETTO coba menyelinap ke elektronic-rock. Ada distorsi, ada sampling, dan ada loop yang temponya cepat. Single ini menjadi ‘perubahan’ kontemplatif ke arah provokatif dalam tempo. Sayangnya, gaya bernyanyi dan vokal Noe, tetap saja ngepop. Tak menyisakan ruang untuk sedikit ‘garang’. Yah sebutlah track ini ‘pop-rock-renaissance’ meski liriknya tak seketat single pertama.

Mencari lagu yang bicara cinta hati meski tak berujung manis adalah di lagu Ephemera. Berlirik bahasa Inggris, lagu ini seperti “menjawab kegelisahan” kamu yang sedang was-was dengan cinta dan hubungan asmara. Choir yang menyelip, membuat lagu ini terdengar dramatis. Jujur saja, vokal Noe kuat di model-model track seperti ini yang bertebaran di album ini. Lagu yang kuat lagi di album ini adalah Don’t Make Me Sad. Lirik berbahasa Inggris ini seperti menjadi penutup yang manis dari rangkaian kelambutan, enlighment, disolasi, dan kontemplatif yang begitu kentara di album ini.

Kelemahan di album ini [dan juga album pertamanya] adalah sound yang tidak maksimal, tidak clean dan kasar di beberapa lagu. Apakah diburu-buru target rilis album? Entahlah, tapi album berikutnya perlu satu sentuhan khusus soal sound ini. Piye dab?

Lagu-lagu Letto sekarang banyak yang “jualan” dalam istilah industrinya. Benarkah? “Sebenarnya masalah laku itu adalah rezeki. Masing-masing band mempunyai rezeki sendiri-sendiri. Tapi paling tidak konsistensi perlu dijaga oleh para personel saat menggarap lagu. Mereka harus mempunyai orisinalitas dalam berkarya. Produser tentu menuntut band yang satu untuk menghasilkan karya yang berbeda dari band-band lain agar albumnya laku di pasaran. Ini yang dinamakan orisinalitas,” tegas Noe. Yang jelas, Letto masih tetap ingin eksis dalam waktu lama. Tak mau letoy [baca: ambruk] sebelum berkembang.

source: tembang.com [joko.moernantyo]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s