Band Dusun dari Yogya

June 13, 2007

Jumat, 22 Desember 2006. Sentral Lapangan Parkir Kuta, Bali. Sebuah lapangan bertanah aspal seluas 2 hektar terbentang tepat disebelah pusat perbelanjaan Kuta Galleria. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam dan Letto masih juga belum naik keatas panggung dan tampil. Manajer mereka Aldi, pria berkacamata dan berbadan kurus –akibat terlalu menikmati tingginya frekuensi penampilan Letto– tampak cukup sibuk mondar-mandir mengurus persiapan lini terakhir pra-penampilan.

Band pop asal Yogyakarta ini dijadwalkan main pukul setengah sembilan malam di acara “Rock on Charity for AIDS” ini namun sepertinya mengalami keterlambatan sehingga penampilan Letto sedikit mundur dari jadwal yang telah ditentukan sebelumnya. Namun bukan masalah karena saya cukup terhibur setelah sebelumnya sebuah band modern rock lokal Bali bernama Pandawa nampak giat menjalankan set-nya, lead gitaris band ini bernama Krishna, baru berumur 12 tahun dan bermain solo gitar dengan kemahiran seolah pengalaman belajar gitar didapatkannya sejak masih di kandungan sang ibu. Rasa penasaran saya muncul mengenai bagaimana kemahirannya bila ia berumur 25 tahun kelak. Tak lama Pandawa pun berakhir tampil, di saat yang sama para anggota Letto pun terlihat sedang melakukan doa di tenda belakang panggung.

Tak lama satu-persatu personil Letto pun mulai naik ke atas panggung. Dedi Riyono atau Dedi duduk apik di belakang set drumnya, Ari Prastowo atau Arian menenteng bas Fender Marcus Miller Jazz Bass miliknya dan siap beraksi. Agus Riyono a.k.a Patub –yang merupakan kakak kandung Dedi sang drummer– terlihat santai bersiap memetik dawai gitarnya. Dan terakhir, Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe sang vokalis pun muncul.

“No One Talk About Love Tonite” terpilih menjadi lagu pembuka. Dari seluruh pengisi acara amal ini, termasuk di dalamnya adalah Navicula dan juga Judika jebolan Indonesian Idol, Letto terang-terangan merupakan aksi yang paling ditunggu penampilannya. Sebagian besar dari ratusan orang yang berkumpul tampak hafal fasih lagu yang ditembangkan. Seperti “I’ll Find a Way” yang menjadi lagu kedua set malam itu, berhasil membuat sebagian penonton ikut bernyanyi, walau ada juga beberapa penonton di depan panggung yang bernyanyi dengan keras dengan lirik asal-asalan sembari sibuk memotret Noe via kamera ponselnya. Noe tampak tahu persis apa yang harus diberikan kepada para penontonnya. Memanfaatkan persona romantic gentle guy next door yang puitis, tidak aneh bila beberapa lawan jenis jelas terlihat melotot dengan senyum di bibir ketika Noe mulai menembangkan “Sebenarnya Cinta” yang dilanjutkan oleh “Truth, Cry and Lie.” Sesekali terlihat Noe terdiam hening sambil menundukkan kepala, dan menaruh telapak tangannya di dada, seperti seolah dalam hati sedang berkata, “Aku bisa merasakan emosi hatimu wahai para penonton.”

“Apakah ada yang bawa pacarnya ke sini? Boleh…asal jangan bawa AIDS yaaa?” ungkap Noe ke para penonton, sembari mengkomunikasikan pesan positif dari tema acara tempat mereka tampil. Saat itu, layar proyektor yang terpampang di samping panggung tampak menyorot adegan visual Jerinx, drummer Superman is Dead yang melakukan monolog dalam aktingnya sebagai karakter generasi muda yang tertekan akan kondisi lingkungannya.

http://www.rollingstone.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s