Letto Raih Double Platinum Berkat Kejujuran

February 6, 2007

Kaltimpost, Senin 22 Januari 2007, Grup band Letto mulai mengukir prestasi. Album Truth, Cry, and Lie yang dirilis akhir Februari 2006 terjual laris di pasaran. Hingga saat ini, album grup band asal Jogja itu terjual 300 ribu keping. Atas pencapaian tersebut, mereka mendapatkan anugerah double platinum. Pemberian penghargaan tersebut dilakukan diam-diam saat grup yang digawangi Noe (Vokal/keyboard), Patub (gitar), Arian (bass), dan Dedi (drum) itu tampil dalam Soundtrack by Request tayangan SCTV, Jumat (19/1) malam lalu.

Indrawati Widjaja atau biasa dipanggil Ibu Acin, pemimpin label Musica yang menaungi Letto, memang sengaja ingin memberi kejutan. Pembawa acara Nirina Zubir mengawali kejutan itu sebelum Letto mulai menyanyi. “Noe, ke sini aku mau tanya. Kamu kan ahli Matematika, 150 ribu dikali dua berapa” tanya Nirina. “Yah, itu sih pertanyaan untuk anak SD. 300 ribu,” jawab pemilik nama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh itu.

Nirina kemudian menyatakan bahwa jawabannya salah. Mendengar itu, Noe keheranan. Putra budayawan Emha Ainun Nadjib memang keukeuh jawabannya benar. “Salah. Jawaban yang benar, kita tanya Ibu Acin,” kata Nirina. Ibu Acin kemudian naik ke panggung membawa piagam bertulisan Letto sebagai simbol double platinum atas prestasi yang telah dicapainya.
Nah, 150 ribu dikali dua, jawabannya double platinum! Selamat buat Letto,” seru Nirina. Noe merasa sangat bersyukur penjualan albumnya bisa mencapai sebanyak itu. Menurut dia, hal tersebut sangat di luar dugaan mereka. “Nggak menyangka. Tapi, album ini memang hasil kerja maksimal. Di setiap kesempatan yang datang, kami memang berusaha untuk selalu maksimal. Kalau nggak, dosa terhadap kesempatan nanti,” kata Noe.

Bagi Letto, prestasi itu mempunyai makna tersendiri. Noe menganggap double platinum adalah tolak ukur statistik segi penjualan. Artinya, ada 300 ribu orang yang tersentuh oleh lagu-lagu Letto. “Kami merasa lebih berarti kalau mengingat ada 300 ribu orang yang dengar lagu kami,” tambahnya. Noe teringat suatu hari ada penggemar yang mengirim lewat SMS, bercerita dirinya patah hati dan tidak ingin meneruskan sekolah. Menurut Noe, orang itu sudah pasrah dan tidak mau berbuat apa-apa lagi untuk memperjuangkan kehidupannya pada masa mendatang. “Beberapa hari kemudian, dia SMS lagi. Katanya, gara-gara dengar lagu Sampai Nanti (milik Letto), kehidupannya jadi lebih baik. Lagu itu memberinya inspirasi,” cerita Noe.

Dalam berkarya, Letto berusaha untuk mengusung kejujuran. Menurut Noe, lirik-lirik yang terkandung dalam lagu-lagunya adalah hasil pemikiran yang benar, bukan dibuat-buat. “Yang terpenting adalah kejujuran,” ujarnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s