Konser di Tegal: Diwarnai Kericuhan

July 3, 2006

TEGAL – Konser musik Letto di alun-alun Kota Tegal, Selasa malam (13/6), berhasil menyedot ribuan penonton. Namun konser sempat diwarnai kericuhan. Di tengah pertunjukan, terjadi tawuran yang melibatkan sejumlah penonton. Meski tidak sampai menimbulkan korban luka parah ataupun meninggal, pertunjukan sempat terhenti beberapa saat.

Tawuran dipicu oleh sejumlah pemuda yang saling bersenggolan saat berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan musik yang dibawakan Letto. Mereka yang bersenggolan itu langsung tawur.
Sejumlah petugas keamanan yang mengetahui kejadian tersebut segera melerai agar tawuran tidak semakin meluas. Mereka merangsek masuk dalam lingkaran penonton untuk mengamankan pelaku.
Bersamaan dengan kejadian itu, salah seorang penonton Retno Sulastri (18) warga Kelurahan Pesurungan Kidul terpaksa dibawa ke Kantor Satpol PP untuk mendapatkan perawatan medis darurat. Sebab gadis itu pingsan akibat berdesak-desakan dengan penonton lain, ketika terjadi tawuran.

Secara umum, penampilan grup musik Letto yang diperkuat Noe (vokal), Patub (gitar), Ari (bas), dan Dedi (drum) itu berhasil membius 3.000 lebih penonton yang memadati arena pertunjukan. Dengan dukungan tata suara 40.000 watt dan tata lampu 15.000 watt, penampilan Letto tampak prima.
Mereka mampu menyuguhkan lagu-lagu yang membuat penggemarnya di Kota Bahari dan sekitarnya, berdiri tegak hingga pertunjukan usai.

Yang unik, penggemar Letto yang notabene digawangi empat cowok itu, membuat para penggemar cewek dan cowok histeris dan menikmati setiap lagu yang disuguhkan. Apalagi saat hits ”Sandaran Hati” dinyanyikan, mereka terlihat enjoy. Bahkan hafal dan ikut bernyanyi.
Lagu-lagu yang dinyanyikan Letto antara lain ”Truth”, ”Cry & Lie”, ”Sebenarnya Cinta”, ”Sandaran Hati”, ”Tak Bisa Biasa”, ”No One Talk Ab’ Love Tonite”, ”Ruang Rindu”, ”Insensitive”, dan diakhiri lagu ”Sampai Nanti”, ”Sampai Mati”.

Lagu-lagu tersebut, kata Noe, berangkat dari pengalaman hidup semua personel Letto. Karena itu, konsep bermusiknya mengandalkan kejujuran dan manusiawi.
Mengenai unsur etnik yang ada pada musik Letto, Noe menyanggahnya. “Mereka mengira musik etnik, padahal hanya nada pentatonik yang kami mainkan,” ujarnya sebelum naik ke panggung malam itu.

(sumber: suara merdeka)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s