Letto Datang dari Langit?

April 25, 2006

Khazanah musik di Tanah Air ditandai dengan kemunculan grup-grup musik baru.
Bahkan, tidak jarang gebrakan awal yang ditunjukan kelompok baru yang rata-rata masih berusia muda ini mampu menarik perhatian para pecinta musik.
Seperti yang ditunjukan Letto, grup musik asal Yogyakarta.
Lewat lagu Sampai Nanti, Sampai Mati yang menjadi single pertama album mereka Truth, Cry and Lie, nama Letto banyak diperbincangkan masyarakat.

Meski begitu, kelompok musik yang terdiri dari Noe (vokal), Ari (bas), Agus Patub (gitar), dan Dedi (drum), merasa popularitas bukan tujuan akhirnya.
Mereka mengistilahkannya, kemunculan Letto sesuai dengan waktu yang tepat.
Kita nggak ngerti soal pasar. Letto datang dan hanya bekerja untuk musik,” kata Noe saat berdialog dengan presenter SCTV Nastiti Lestari, Ahad (23/4).

Penampilan perdana Letto ditengah ketatnya persaingan di antara grup musik baru memang bukan hal yang kebetulan.
Namun, sudah dirancang dengan konsep yang matang.
Dijelaskan Noe, Letto memiliki keunikan lain dibanding kelompok musik lainnya.
Selain tidak selalu terpaku kepada satu jenis aliran musik, juga memiliki kekhasan dalam corak lagunya.
Lagu-lagu yang dibuat Letto diupayakan selalu menangkap emosi yang berbeda.
“Contohnya, seperti ada orang yang sedih tapi pura-pura tegar.

Keunikan Letto tak hanya dari warna musiknya, tapi sejarah berdirinya kelompok musik ini juga berlainan dengan jalur biasanya.
Didirikan pada 2004 silam, cikal bakal Letto berawal dari pertemanan masing-masing personelnya sejak duduk di bangku sekolah menengah atas.
Anehnya, mereka berkumpul bukan untuk bermain musik tapi berteater.
Kemudian mereka memberi nama grupnya ini dengan sebutan Letto yang secara harfiah tidak ada artinya sama sekali.


Letto, kata Noe, lebih diidentikan dengan proses perjalanan berdirinya grup musik ini.
Sejarah Letto tidak dari mana-mana tapi datang dari langit,” kata Noe.
Kiprah mereka di dunia teater kemudian berlanjut dengan keterlibatannya dengan kelompok Kyai Kanjeng pimpinan budayawan Emha Ainun Najib.

Ini dimungkinan karena Noe memang adalah putra Cak Nun.

Kendati begitu, proses perjalanan musik Letto tidak serta merta mengikuti aliran musik Kyai Kanjeng.
“Keterlibatan kita dengan mereka bukan lantaran musiknya, tapi mereka juga adalah orang tua kami,” kata Noe, lulusan Math and Physics University of Alberta, Kanada.
Ditambahkan Noe, aliran musik adalah bentuk manifestasi dari sebuah generasi.
Termasuk dalam hal mencipta lagu. “Cak Nun paling tidak bisa mencipta lagu,” tutur Noe.

Namun mereka tidak memungkiri adanya warna musik Kyai Kanjeng yang diadopsi, terutama musik-musik Jawa kuno dengan corak slendro dan pelog yang dipadukan dalam permainan instrumen modern.
Masuknya berbagai aliran musik memang tidak ditabukan Letto.
Menurut Ari, sejak Letto didirikan, mereka memiliki prinsip untuk selalu terbuka dengan kehadiran beberapa corak musik.
“Kita tidak selalu memainkan musik pop atau rock saja. Jika memungkinkan bisa saja kita membuat lagu blues,” kata Ari.

(Sumber: Liputan6 SCTV )

One Response to “Letto Datang dari Langit?”

  1. Anonymous Says:

    This is very interesting site… » » »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s