Letto Mementahkan Sinisme

March 25, 2006

Dulu, ketika LETTO Band masuk ke kompilasi PILIH 2004, sempat muncul pesimisme band ini bakal cepat masuk dapur rekaman.
Maklum saja, tahun itu adalah eranya Peterpan yang kebetulan satu label dengan band asal Jogjakarta ini. Lagian siapa yang aware dengan single LETTO I’ll Find Away.
Meski sempat mencuri dengar, tapi lagu tersebut “tak benar-benar” menganggu.

Tapi mungkin kini, kita harus mengubah ‘sinisme’ itu. LETTO akhirnya tetap merilis album utuh yang herannya, sebenarnya lebih bagus dibanding band-band yang sekarang sedang digandrungi.
Sayangnya juga, LETTO sendiri ternyata tak “jual diri” sebelumnya.
Nggak kaget, kalau musisi-musisi Jogja sendiri “kebingungan” ketika ada band dari daerahnya yang [lagi-lagi] merilis album nasional.

Album perdananya seperti ‘sok-sokan’ lantaran menggunakan judul berbahasa Inggris Truth, Cry and Lie. Sesuatu yang sebenarnya makin biasa di dunia musik Indonesia.
Tak cuma itu, separuh lagu dari 10 lagu yang ada, berbahasa Inggris. Hasilnya?

Sebenarnya LETTO termasuk mengejutkan secara materi.
Single pertamanya Sampai Nanti, Sampai Mati ternyata bisa menggoda penikmat musik, meski masih ditengah dominasi pop manis lainnya.
Lagu ini simpel, judulnya sedikit nakal.
Tempo lagunya medium dengan karakter pop yang jelas.
Hanya tampaknya pengaruh brit-pop dominan.
Lagu ini mengingatkan penulis pada lagu-lagu milik grup Starsailor.
Sebenarnya, lagu ini tak lazim. Ada nada-nada pentatonis yang cukup unik.
Sebenanrya kalau dikulik lagi, akan lebih menarik.
Tapi tampaknya LETTO tak mau terjebak pada pop-etnisitas.

Noe [vokal/kibor], Patub [gitar], Arian [bass], dan Dedi [drum] tampaknya cukup jeli mengemas konsep musiknya.
Suara Noe sengau dengan karakter mellow yang cukup kuat.
Secara “sembarangan” penulis mendengar karakter Keane Band, Tom Chaplin. Berlebihan? Mungkin saja, tapi karakter itulah yang menjadi kekuatan lagu-lagu LETTO.
Coba simak track pembuka Truth, Cry, and Lie. Liriknya sebenarnya psychedelic.
Tapi kita akan terkecoh dengan tarikan vokal Noe yang melankolik itu.

Kelebihan lainnya, Noe punya lafal Inggris yang cukup bagus.
Meski sering mengaku “anak desa” ternyata Noe cukup lama ngendon di Kanada.
Anak Emha Ainun Nadjib ini punya kelabihan vokal yang apik.
Single yang tampaknya bakal mengharubiru adalah Sandaran Hati.
Bakal single ke-2 ini punya intro yang langsung membuka warna vokal Noe.
Masih tetap dengan tempo medium, lagu ini cocok dengan “kuping” Indonesia.

Sayangnya, semua kelebihan itu tidak langsung ditingkahi dengan sound yang apik.
Kekurangan album ini adalah sound yang terlalu “sederhana”.
Seandainya bisa lebih megah, kamu bisa tertipu mengira LETTO band britpop dari negeri seberang.
Kelemahan lain yang perlu segera dibenahi, LETTO harus berani bermain-main dengan lirik yang sedikit nakal. 10 lagu nyaris seragam.
Entah, kalau mereka memang memposisikan diri sebagai band “pengharubiru” saja.
Kalau itu pilihan mereka, sayang sekali. Band ini punya potensi lebih.

(resensi @ tembang.com)


One Response to “Letto Mementahkan Sinisme”

  1. Anonymous Says:

    Cool blog, interesting information… Keep it UP here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s